Oct
24
2008
Waktunya bercerita tentang perbuatan. Ada banyak mata yang tersedot perhatiannya dengan sebuah novel dan kemudian difilmkan. Laskar Pelangi menjadi idola kali ini. Memang tak banyak novel yang cukup realistis menggambarkan kondisi sekolah apa adanya. Di banyak sinetron yang kita lihat, misalnya, gambaran kehidupan sekolah adalah yang selalu wah dan Jakarta banget! Sepertinya selain sekolah yang ada di Jakarta, dunia sekolah lain tidak pernah ada di negeri ini. Gambaran sekolah sederhana namun cukup bermutu dan efektif bisa saja muncul di sekolah pinggiran dan pelosok Indonesia.
Sekolah yang efektif pengelolaannya bermula dari komitmen unsur-unsur di dalamnya. Visi dan misi dicanangkan atas kesepakatan yang utuh dari stakeholders. Pelaksanaan program sekolah melibatkan banyak pihak yang berkomitmen untuk memajukan sekolah. Setiap mata rantai kegiatan direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan dan dievaluasi bersama. Pihak pimpinan tidak perlu merasa paling berkuasa dalam segala kebijakan sekolah. Perkuat komitmen guru dengan memberikan kepercayaan nyata untuk bekreasi dan berdaya guna. Setiap potensi yang ada di sekolah harus menumbuhkan kebanggaan bersama, juga kesejahteraan untuk semua. Jangan bawahan berkeringat, pimpinan yang lantas menyikat. Satukan diri, potensi dan ambisi mengukuhkan misi sekolah kita semua.
Lasykar Pelangi adalah gambaran sederhananya dunia pendidikan yang membanggakan. Anak didik menjadi bangga atas proses pembelajarannya. Semua serba bersahaja.
Giliran kita ikut menyimak sebuah resensi yang telah susah payah ditulis oleh Bapak Ernes Falikres. Apa sebenarnya yang bisa kita ambil dari novel plus film Indonesia itu?
Silahkan membacanya dengan KLIK
Berbagi
Oct
22
2008
Diposting dari sumber KOMPAS
JAKARTA, SENIN - Kepala sekolah dan pengawas sekolah di Indonesia ternyata belum sepenuhnya memenuhi enam syarat uji kompetensi. Kelemahan utama mereka terletak pada poin supervisi manajerial dan akademik yang notabene menjadi fungsi utama kedua pimpinan lembaga pendidikan tersebut.
Hal itu diungkapkan Direktur Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Surya Dharma, dalam jumpa pers di kompleks Gedung Depdiknas, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Senin (11/8). Surya menuturkan, ada enam syarat uji kompetensi kepala sekolah yang diadakan Ditjen PMPTK setahun yang lalu meliputi kepribadian, sosial, supervisi akademik, supervisi manajerial, evaluasi pendidikan, riset dan pendidikan. “Dua fungsi supervisi manajerial dan akademik itu justru paling lemah hasilnya. Hal ini terjadi karena pola rekrutmen kepala sekolah yang belum optimal,” katanya. Ia menambahkan, uji kompetensi itu dilakukan untuk pemetaan kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan pengawas sekolah dari 400 kepala sekolah di lima provinsi di Indonesia. “Kami ambil sampel untuk maping dulu, ternyata hasilnya seperti itu. Ini sebagai implementasi Permendiknas No 12/2007 tentang standar kompetensi kepala sekolah dan pengawas sekolah,” jelasnya.
Pola rekrutmen kepala sekolah di daerah, dikatakannya, masih sepenuhnya dipilih oleh Bupati atau Walikota karena menerapkan otonomi daerah. “Sebenarnya hal ini tak masalah kalau rekrutmen berdasar kompetensi personel yang dipilih, bukan karena faktor politis atau sogokan uang. Ini yang harus dihindari,” ungkapnya. “Ditjen PMPTK sedang membuat pedoman seleksi calon kepala sekolah dan pengawas sekolah dengan standarisasi seperti dari proses pemilihan harus guru bergelar S1. Setelah itu melalui masa training dan dimasukkan semacam karantina. Nah, Bupati atau Walikota harus memilih personel dari karantina tersebut, bukan yang lain,” jelas Surya. Ia menandaskan, kualitas kepala sekolah dan pengawas sekolah harus diupayakan melalui seleksi yang terbuka, bersih dan transparan serta memperhatikan standar kompetensi yang telah ditetapkan.
MYS Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
Berbagi
Oct
22
2008
Berbagai sekolah unggulan menjamur di negara ini. Para manajer sekolah berlomba-lomba ikut memberikan label tertinggi untuk sekolahnya. Standar tertinggi untuk sekolah unggulan adalah bila sudah menyandang label ’standar internasional’, dan di bawahnya ada label ’standar nasional’.
Sekolah yang bukan unggulan harus cukup sadar diri untuk puas dengan label terdaftar atau diakui. Usaha mati-matian untuk mendulang label tertinggi bagi sekolah yang memang tidak ada proyek ’sekolah unggulan’ masih jauh dari jangkauan.
Para manajer sekolah yang memiliki antusiasme tinggi akan rajin mengadakan study banding ke sana dan ke sini. Berapa pun biaya study banding yang dilaksanakan, harus disedikan. Para manajer sekolah menikmati perjalanan study banding dengan berbagai fasilitas sekolah mulai transport, akomodasi dan uang saku. Semua fasilitas tersebut akan masuk ke dalam kantung pribadi dan team.
Bagaimana hasil dari study banding tersebut? Semuanya mungkin dicatat dan dipak dalam benak dan buku pribadi anggota team study banding. Bagaimana hasil-hasil study banding tersebut dilaksanakan? Semuanya terserah kepada pimpinan team. Apakah study banding itu bisa memberikan dampak positif kepada sekolah? Semua terserah kepada komunitas sekolah dan visi serta misi kepala sekolah.
Study banding adalah proses menggali ilmu khusus tentang kelebihan sekolah lain. Yang akan didapatkan dalam study banding adalah informasi-informasi penting yang sebenarnya bisa digali di lingkungan sekolah asal. Study banding harusnya menjadi proses penggalian yang utuh dan tidak disisipi dengan niatan mengambil keuntungan tidak populis–cuma jalan-jalan misalnya.
Hasil study banding perlu diselaraskan dengan kondisi riil di sekolah dan kemudian diimbuhi dengan perencanaan-perencanaan matang tentang apa dan bagaimana program ke depan akan dijalankan. Kalau study banding hanya menjadi bahan obrolan, sebaiknya tidak usah saja. Misalkan study banding belum bisa menciptakan pelangi di sekolah asal perlu diselidiki apa yang sebenarnya ‘missing’ dalam pelaksanaannya.
Tidak semua hasil study banding bisa diambil dan bisa bermanfaat untuk sekolah tempat kita berkarya. Sukses mengubah kondisi sekolah menjadi lebih maju bermula dari kemauan keras dan komitmen warganya.
Berbagi
Oct
21
2008
Protes yang dilontarkan banyak pihak, terutama siswa, sering kita dengar ketika seorang guru menempeleng muridnya. “Jangan ada lagi kekerasan di dunia pendidikan!” Suara protes itu muncul di mana-mana, dengan berbagai nada. Seorang pelaku lantas dikenai sanksi. Untuk sementara para pemotres kekerasan di dunia pendidikan sedikit terobati. Di kemudian hari, muncul lagi beberapa kasus yang bukan hanya melibatkan seorang guru, tetapi kelompok guru, dan bahkan institusi pendidikannya ikut bertanggungjawab dalam masalah kekerasan di dunia pendidikan. Kekerasannya agak lain, yaitu menggagas peraturan di sekolah dengan gaya militer. Sorotan pun muncul dari berbagai penjuru mata angin. Para pendidik akhirnya berdiskusi dan berusaha memecahkan persoalan dalam pendidikan yang hampir tidak pernah tuntas.
Mengapa dunia pendidikan sering mendapat sorotan justru dari orang lain di luar profesi pendidik? Apakah para pendidik belum begitu tanggap menyoroti masalah pendidikan? Berapa banyak lagi kasus kekerasan yang muncul di dunia pendidikan? Apa sebenarnya tujuan pendidikan?
Catatan: posting ini muncul setelah sekolah tempat saya mengajar memiliki kepala sekolah baru. Kepala sekolahnya diangkat dengan dasar penunjukan departemen dan bukan karena ia seorang guru profesional yang meniti karirnya di sekolah. Peraturan di sekolah menjadi lebih kaku. Banyak guru yang bersikap lain dari biasa. Kelihatan mereka ingin tampil beda. (ganti baju rupanya!!!!)
Berbagi
Oct
20
2008
Dalam sebagian kampanyenya tentang “Smart Riding” Kasat Lantas Bojonegoro AKP datang ke MAN 1 Bojonegoro pada hari Senin 20 Oktober 2008. Kejadianl ini berlangsung pada saat apel pagi yang dilakukan di madrasah setiap Senin. Tidak seperti biasanya para siswa mengikuti apel pagi dengan Kasat Lantas sebagai inspektur upacaranya.
Di hadapan hampir 1000 siswa beserta guru dan karyawan Kasat Lantas Bojonegoro menjelaskan tentang apa yang dimaksudkan dengan Smart Riding. Istilah ini muncul secara tata cara berlalulintas di Indonesia setelah pihak kepolisian Indonesia melakukan study banding di negara-negara Asia, termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam, untuk melihat apa dan bagaimana kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian pengendara bisa diminimalisir. Penyebab kematian dalam kecelakaan lalu lintas adalah bagian kepala pengendara yang tidak terlindung. Pelajaran lain adalah menyalakan lampu depan untuk kendaraan roda dua meski di siang hari.
Kasat lantas juga menjelaskan tentang pentingnya memperhatikan standart kelengkapan kendaraan bermotor termasuk spion, lampu dan ukuran ban yang digunakan. Beliau mengkritik kondisi kendaraan yang tidak standart seperti lampu riting yang dubah warnanya dari kuning menjadi putih atau lampu stop yang dubah warnanya menjadi putih juga.
Akhirnya bisa dikatakan bahwa pelaksanaan apel dengan inspektur upacara seorang polisi di lingkungan madrasah memberikan suatu nuansa baru untuk belajar berbudaya lalu lintas dari ahlinya secara langsung.
Berbagi
Oct
18
2008
Jangan tanyakan kepada saya!
Seorang teman di samping saya yang mengungkapkan perasaannya kepada teman-temannya. Para blogger lagi ngumpul sekarang. Kita lagi berada di laboratorium komputer di sekolah. Nebeng!
“Bosan saya ngeblog! Masak sudah bikin bagus-bagus kok ketimpa expired.” Ia bikin blog yang gratisan dengan Jomlaa pakai model co.nr dan sejenisnya. Dengan modal dengkul sebenarnya dia juga pernah bangga dengan traffic yang pernah jadi record pribadinya. Alih-alih bisa lanjut jadi terkenal! Blog yang dia buat sudah tidak bisa diakses oleh pemilihnya sendiri.
Kalau saya tidak bosan kok! Masih mau terus justru.
Berbagi
Oct
18
2008
Keseringan membaca blog membuat saya bisa belajar. Kali ini saya melihat bahwa blog tito-kun dari blogspot mampu menarik perhatian saya. Pasalnya adalah:
- Wong hanya dari blogspot saja kok bisa bagus.
- Tito juga memunculkan pages yang tidak biasa, yaitu seperti daftar isi di buku atau majalah.
- Tito bisa menata blog dengan penempatan kategori dan tag yang rapi.
- Blog yang dimaksud bisa menjadi tempat belajar karena muncul juga artikel tutorial plus softwarenya.
- Tito tidak kaku, malah dia menyajikan humor-humor politik dengan gaya lugas.
- Penting diperhatikan si Tito mengajak orang lain untuk berbisnis.
Nah, giliran saya yang menyarikan dengan ungkapan bebas. Ternyata bikin blog bisa jadi penyegaran perspektif diri.
Berbagi
Oct
17
2008
Jangan pernah beranggapan bahwa yang kita lakukan dalam membangun pendidikan di kita sudah begitu bagus. Tidaklah nyaman berpandangan bahwa segala sesuatu tidak perlu berubah. Atau kalau pun kita datang untuk berubah dan mengubah, jangan sekali-kali yakin bahwa konsep kita sendiri yang paling benar. Berbuat dalam konsep perubahan perlu pemikiran yang matang.Anda datang bukan yang pertama di sini. Mungkin andalah yang disebut ‘New Kids on the Block’. Belajarlah berubah.
Berbagi